PART 1 OSPEK 'offline' Terakhir (?)
Blog ini merupakan dokumentasi visual dan narasi bagaimana pengalaman OSPEK atau PPKMB offline yang pernah saya alami ketika menjadi MABA. Yap! Mungkin isi cerita akan tersusun dalam beberapa postingan blog yang saling terangkai menjadi sebuah kesatuan. Selamat Membaca dan Menikmati!
Kala itu hari Senin pagi yang cerah, di mana lautan manusia "freshly graduated" dari SMA hendak memulai masuk ke bab baru dalam kehidupan akademiknya, kuliah!
| Selepas Subuh di Depan GSG |
Senin pagi itu saya berangkat dari rumah yang berada di pusat kota, bersimpuh kepada hadapan ilahi akan pentingnya momentum pekan ini. Saat itu, mama sudah menyiapkan bekal untuk hari pertama agenda kami; apalagi kalau bukan 3T2S, YAP BENAR! Tahu, telur, tempe, sayur, dan sambal akan menjadi satu-satunya alternatif karbohidrat dan protein yang dinilai cukup untuk menghadapi agenda-agenda ruweh di hari esoknya.
Pasca sholat subuh, saya mempersiapkan diri menggunakan baju khas "maba" kami ketika itu: kemeja putih lengan panjang, celana dasar hitam, sepatu pantopel, serta almamater hijau dan dasi logo "Unila" sebagai simbol kami untuk satu tahun ke depan 🙂.
Mama mengambil sejumlah foto saya sebelum berangkat menaiki mobil, beberapa jepretan untuk mengabadikan salah satu momen bersejarah dalam hidup kami sekeluarga. Kemudian, take off menuju mobil kecil kami untuk berangkat pertama kali ke tempat penimba ilmu baru, secara resmi, sebagai calon mahasiswa!!
| Lautan Kebingungan Maba |
Euforia sepanjang perjalanan subuh itu, yaa, benar, subuh. Saya ingat sekali kami tidak melakukan shalat di masjid kala itu mengingat jarak rumah dengan kampus yang mencapai setengah jam, sehingga ketimbang telat di barisan, saya memilih sholat dari rumah saja.
Mobil melaju begitu kencang kala itu, kami memilih memasuki gang PU (sebuah jalan pintas yang tidak melewati jalan protokol) untuk memangkas laju perjalanan. Ketika itu, radio pun belum menyiarkan apapun di setiap frekuensinya, semuanya hening, hanya ada suara angklung dan gambus tradisional Sriwijaya yang diiringi dengan bercikan air sebagai tanda bahwa bumi masih tenang. Ahh... Momen-momen indah di saat yang mendebarkan 😀.
Ketika berputar ke kanan memasuki gang PU. Kebetulan sekali, mobil menyintas sejumlah orang-orang berpakaian identik dengan kami berada di depan gang. Ya, benar, calon maba-maba juga yang sepertinya sedang menunggu angkot untuk menjemputnya. Sayang sekali, kami tidak menjemputnya, seharusnya bisa saja kami ajak untuk ke kampus bersama, namun karena sedang tergesa-gesa, kami melupakannya.
Jam menunjukkan pukul 5.15 ketika aku sampai di prasasti gapura kampus baruku, Unila. Tidak seperti yang dibayangkan, kukira saat itu masih sepi dengan orang-orang mengingat acaranya dimulai jam 7an. Namun, betapa beruntungnya, ternyata sudah sangat ramai dengan lautan manusia berpakaian dasar.
Semuanya turun dan berjalan dari kendaraan nya, ada yang parkir di belakang kampus, di kost an kawannya, bahkan dibalik masjid kampus. Semuanya hampir sama seragamnya, hanya saja ada 1 jurusan yang unik, yaitu teknik!
Mereka menggunakan topi konstruksi dengan rambut yang dipangkas habis untuk yang laki-laki. Wajar, disiplin mungkin adalah kunci survive di teknik, karena di sana mereka haram untuk manja! Dan mulai dari sini kepribadian mereka terbentuk.
Saat itu, aku berpamitan dengan kedua orang tua di pinggir trotoar ramai dan berjalan sendiri dengan harapan akan bertemu kawan suatu saat kalau beruntung, satu jurusan pula.
Beruntunglah, perjalanan dini hari di kampus itu merupakan pertama kali bagiku, mengingat terakhir kali sebelum menjadi mahasiswa, aku hanya berkunjung ke Unila untuk menjemput hadiah lomba pada siang hari jam 2, bukan jam ½6 pagi 😂.
| Suasana riuh di depan GSG sebelum acara |
Saat itu, mayoritas berkumpul di GSG, semuanya bersiap untuk mengikuti instruksi dari panitia BEM.
Semuanya tegang, lapar, dan bingung mengingat banyak sekali orang yang identik namun tak ada yang kami kenal sama sekali.
Kita sambung lagi di part 2 yaa 🙂
Komentar
Posting Komentar