Setiap Kenikmatan Pasti Ada Beban

Selalu ada yin setiap yang. Selalu ada kanan di setiap kiri. Selalu ada beban yang sama di setiap pangkuan timbangan. Begitulah hidup, selalu ada nikmat di setiap beban.

Pernah tidak berfikir, kenapa hidup saya begitu sulit? Pernah tidak terlintas di dalam sebuah pikiran, mengapa kita selalu berapa dalam loop-hole yang sama, penderitaan dan kesusahan hidup?

Pernah? Wajar, setiap manusia yang pernah berdiri di atas tanah dunia pasti memiliki perasaan yang sama dengan hal itu.

Kita selalu terbawa suasana, bahwa membandingkan hidup merupakan cara terbaik menentukan letak kelemahan/kekurangan kita dalam hidup. Setiap manusia pasti suka membandingkan. Setiap manusia suka untuk dibandingkan. Silakan catat itu.


Manusia, Si Pembanding-Banding


Saya pribadi, memang orang yang suka membandingkan. Mulai dari segi "posesivitas" hingga "priviledge" yang dimiliki orang lain selalu suka saya bandingkan. Enggak percaya? Yap. Memang itulah manusia pada umumnya, memandingkan adalah sebuah rempah-rempah kehidupan. Mereka menilai: *Dengannya hidup mereka akan lebih berwarna, setidaknya dari perspektif lain-*katanya,

Sebagai seorang yang suka membandingkan diri, saya tidak suka melakukan sesuatu yang ekstrem terhadap apa yang saya komparasikan. Saya hanya menganggapnya sebagai sebuah milestone untuk mencapai/dicapai setidaknya sekali dalam hidup saya.

Hah? Maksudnya gimana toh?

Jadi dasarnya, saya membandingkan hidup tanpa terlalu memikirkan jangka panjang apa yang akan terjadi blablabla..... saya hanya melihatnya, mengamati, dan mencatatnya mungkin bisa manjadi harapan hidup saya suatu saat nanti...

But, there's always people that take it to the next level, as always.

Saya menemukan seseorang yang sangat ekstrem dalam hal membandingkan hidupnya. Seolah hidupnya take for granted begitu saja, seperti tidak ada nilainya dibandingkan dengan orang yang ia lihat.

Saya mengetahui orang-orang yang melintas dalam kehidupan ini sedikit "liar" ketika person X memiliki sesuatu yang tidak ia miliki. Dari rasa marah, emosional, tertekan, bahkan depresi menjadi jalan akhir semuanya.

Yaaa, padahal mereka belum tentu peduli dengan kita, atau pun bahkan mengetahui eksistensi kita dalam hidup mereka.


But Why?


Saya selalu bertanya, kenapa?

Kenapa membawa hidup anda begitu sulit hanya karena ada orang yang sekedar "lewat" saja, memiliki sedikit "kelebihan" saja, anda menjadi se-"liar" ini?

Apakah dengan anda tidak memiliki itu, tidak bernasib seperti itu, tidak di posisi itu anda akan tewas begitu saja? Yaaa, memang harus kasar apabila ingin menampar seseorang.

Tentu tidak. Tidak ada efektifnya anda membandingkan seperti itu, tidak ada gunanya baik dari sisi material, maupun haqiqi,

Kuncinya, meski mereka terlihat sempurna dalam kehidupannya karena ada sejumlah "hal tertentu" yang membuat mereka nampak lebih, bukan berarti sempurna seutuhnya.

Perfection is just an illusion that made by our people today to value the impossible.


Dari Agama Sampai Televisi


Semua agama pasti melarang adanya tindakan berlebihan dalam membandingkan hidup, atau bahkan membandingkan hidup pada dasarnya saja sudah termasuk dosa itu sendiri.

Agama, apapun kepercayaannya percaya bahwa bersyukur merupakan kunci dalam meraih kehidupan yang haqiqi dan bermakna. Dengan bersyukur, otak kita setidaknya sejenak istirahat, setidaknya sejenak merenung sudah sejauh mana kita berjalan dan sudah sebanyak apa kenikmatan dan peristiwa kehidupan yang kita alami.

Namun, seiring perkembangan global menuntut arus informasi berputar lebih cepat dari kilat sering membuat kita overwhelmed dengan apa yang terjadi di sekitar kita.

Dari sinilah kita mulai mem-posesifkan diri kita dengan orang lain di luar circle keseharian kita.

Berbeda dengan dahulu, kita hanya membandingkan diri mungkin hanya dengan sepatu baru yang dimiliki kawan sekelas kita, ataupun mainan baru yang dimiliki tetangga kecil kita. Namun sekarang? hadirnya sosial media, media massa, teknologi informasi memudahkan kita mendapatkan the glam perspective of what the top 1% expected to have, and what we don't have.

Don't take life so seriously. No one else does it to you.

Jadi, kuncinya jangan terlalu terobsesi dengan media, terobsesi dengan kepemilikan, terobsesi dengan "pinjaman sementara" yang diberikan Tuhan. Ingat, semuanya pasti akan ditarik ketika waktu pakai kita di dunia yang fana ini selesai.

Posisi jabatan kita akan digantikan orang, harta kita akan dibagikan menjadi warisan, saudara dan teman kita yang menangis di pemakaman kita esok/lusanya akan kembali tertawa terhura-hura seperti normal. Hanya tersisa kita, di antara alam kesepian dan pengadilan Yang Maha Kuasa.


Setiap Kesenangan Selalu Ada Kesusahan


Yap. Benar.

Resep dari kehidupan adalah keseimbangan, dan dengannya kehidupan mampu tercipta secara berkelanjutan.

Manusia tidak bisa hidup tanpa minum dan makan, dunia tidak akan mampu ada apabila terlalu dingin ataupun panas, bahkan timbangan saja akan tidak berguna apabila kedua sisi piringan beban memiliki nilai berat yang berbeda.

Tidak semua orang terlihat "kaya" tentu bahagia, mereka bisa saja mengalami depresi, tekanan, bahwa ancaman terhadap risiko yang ditimbulkan dari kekayaan mereka sendiri.

Tiak semua orang terlihat "miskin" tidak akan pernah bahagia. Mereka bisa saja mengalami kebahagiaan dengan hal-hal kecil. Dari keluarga yang selalu memeluk dengan kehangatan, kesederhanaan dalam hidup, atau sekecil makanan yang mampu memberikan kesehatan optimal untuk terus berjuang dengan nasibnya.

Seorang bos belum tentu terlihat bahagia dan berkuasa. Bisa jadi dia dan perusahaannya tertipu dan mengalami kerugian yang signifikan dalam kejapan mata saja. Ataupun terlalu sibuk dengan pekerjaannya hingga tidak ada keluarga yang ingin menyambutnya di rumah.

Seorang office boy belum tentu terlihat menderita dan rendah. Bisa jadi dengan posisinya tersebut, dia menemukan makna hidup yang sebenarnya dan mampu membangun nilai-nilai yang sesuai dengan prinsipnya. Memiliki keluarga yang senantiasa menyambutnya ketika pulang, ataupun tertawa lepas ketika di waktu kosong dengan melihat betapa jenaka nya hidup ini.

Masih banyak yang bisa dibandingkan, namun terlalu sedikit waktu yang terhabiskan. Maka saya cukupkan saja dengan kedua perspektif tersebut.

Selalu ada debit dalam sebuah kredit. Selalu ada panas dalam sebuah beku. Begitu juga.

Soooo, from now on, i beg you, please enjoy your life, the least thing you can do. 🙂

Thank you telah membaca tulisan ini, maaf apabila ada kesalahan kata/pemikiran semoga keikhlasab Anda akan selalu terus membaca artikel saya ke depannya



Stay safe, stay happy.

Have a nice life! Have a good day!


#Janganlupabahagia


Bandar Lampung, 12 Agustus 2021

Robby Ananda

Komentar

Comments